4 Srikandi Pionir Keuangan Syariah Dunia

PalingYess.com - Pemimpin bukan lagi monopoli lelaki. Perempuan pun bisa berdiri di garis depan. Menjadi panutan banyak orang, di berbagai bidang. Mereka mampu memimpin ceruk hidup yang selalu didominasi kaum pria.Mereka membuktikan bahwa kesetaraan gender memang butuh perjuangan. Tak mudah memang. Keempat perempuan ini harus menerobos rintangan berat. Mulai diskriminasi hingga budaya maskulin di wilayah tempat mereka tumbuh.Para wanita itu adalah Nida Raza dari Arab Saudi, Shabnam Mohammad dari Uni Emirat Arab, Aisath Muneeza dari Maladewa, dan Farmida Bi dari Inggris. Merekalah pionir wanita di industri keuangan syariah dunia:1. Nida RazaNida Raza saat ini menjabat Head of The Advisory Services Department (ASD) di Islamic Corporation for The Development of Private Sector (ICD) yang berbasis di Jeddah, Arab Saudi.Nida memulai karier di sektor keuangan sebagai analis di J.P. Morgan pada tahun 2000. Selama 16 tahun dia mengabdi di perusahaan sekuritas, perbankan investasi, dan perbankan ritel.Tak mudah bagi Nida untuk melalui jejak moncer ini. Apalagi dalam dunia keuangan syariah. Dia mengatakan, banyak wanita pemimpin di industri yang berbeda. Akan tetapi, keberadaan wanita di industri keuangan seakan tidak dianggap.Alasan utama yang diketahuinya adalah wanita ini tipe orang yang berhenti dari karier untuk menghabiskan waktu dan membangun keluarga. “ Kuncinya itu fleksibilitas. Saya percaya wanita ini punya banyak prioritas di antara keluarga dan pekerjaan. Ini bisa efektif jika mereka diberi kesempatan,” kata dia.2. Shabnam MohammadShabnam Mohammad adalah Kepala Restrukturisasi Tell Group di daerah Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA). Menurut dia, wilayah MENA terbuka bagi wanita profesional meskipun masih ada anggapan bahwa tugas wanita adalah mengurus keluarga.Namun duia beruntung hidup di Uni Emirat Arab (UEA), yang mendorong peran wanita dalam industri keuangan dan perbankan.Shabnam yang telah bekerja di beberapa kawasan ini, mengatakan, keuangan syariah memberikan ruang bagi individu yang memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk berkarya. Dia pun berkisah soal pengalaman kerjanya di industri keuangan syariah di Deutsche Bank.Shabnam mengaku tidak mudah untuk menerobos blokade gender. Dia mengaku pernah tidak diberi peran karena faktor umur atau jenis kelamin. Tapi, larangan itu tak menghalangi langkahnya.“ Saya lebih suka bekerja dengan orang-orang yang berpikiran terbuka dan menilai saya dari etika kerja dan kemampuan saya daripada gender,” kata dia.3. Aisath MuneezaAisath Muneeza adalah kepala bagian keuangan syariah di Otoritas Pengembangan Pasar Modal di Maladewa. Aisath terjun ke industri keuangan syariah sejak tahun 2011 dan mampu mengombinasikan teori pascasarjana dan praktik. Kini, dia menjadi kunci penting dalam industri ini di Maladewa.Ketika terjun ke industri keuangan syariah, Aisath belum begitu berpengalaman. Tapi, dia tidak ambil pusing.“ Industri keuangan dan perbankan adalah area yang sangat menantang bagi wanita, baik konvensional maupun syariah. Secara teori, tidak ada yang bisa menghalangi wanita untuk masuk ke industri ini, tapi praktiknya, banyak tantangan yang harus kami hadapi,” kata dia.4. Farmida BiFarmida Bi adalah Kepala Departemen Keuangan Syariah di Norton Rose Fulbright di Eropa. Meski hidup di negara yang memberikan peran besar bagi wanita, dia merasakan beratnya menembus industri keuangan syariah.Farmida mengatakan, jumlah wanita yang memegang posisi penting dalam keuangan syariah sangat sedikit. Ketika menghadiri konferensi keuangan syariah, dia menemukan banyak panel diskusi yang sebagian besar diisi oleh kaum pria.“ Itu harus diperbaiki dan membantu menciptakan kesan bahwa industri keuangan syariah terbuka bagi semua,” kata dia.sumber satumedia.co

Artikel PALING YESS Lainnya :

Scroll to top