Bagaimana Hukum Bursa Saham di Dalam Syariat Islam?

Pertanyaan : Assalamu'alaikum Wr. Wb.Ustadz, saya mohon penjelasannya mengenai menjadi investor di bursa saham. Saya bermain saham untuk waktu singkat dengan kata lain saat ini beli bila dapat selisih untung, saya jual saham tersebut. Jika hari itu untung saya jual atau menunggu beberapa hari sampai mendapat untung. Tolong penjelasannya pada sikon yang bagaimana menjadi haram? Apakah cara saya tersebut dilarang secara syar'i?Terima kasih atas pencerahannya.Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Jawaban : Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,Apa yang Anda tanyakan telah dibahas oleh banyak ulama, salah satu di antaranya adalah apa yang telah diterbitkan oleh Majma' Fiqih Islami, sebuah majelis tempat berkumpulnya para ulama senior dari seluruh dunia.Kajian tentang masalah bursa saham dengan segala aktifitasnya seperti short selling (al-bai'u 'ala al-maksyuf) atau margin trading dan sejenisnya, telah dibahas secara panjang lebar dan berkala. Hasilnya berupa keputusan yang diberi nomor 65/67 oleh lembaga tersebut.Para ulama telah mengundang hadir para pakar ekonomi dan praktisi di bursa saham, lalu mereka melakukan kajian. Akhirnya mereka membuat kesimpulan dengan menyatakan bahwa keharaman yang wajib dihindari dari masalah itu adalah haramnya membeli saham dengan pinjaman ribawi.Bentuk yang biasa dilakukan oleh pialang saham atau lainnya kepada pembeli adalah dengan menjadikan saham sebagai jaminan. Haramnya tindakan tersebut karena di dalamnya ada riba yang dikuatkan dengan jaminan. Keduanya merupakan aktifitas yang diharamkan di dalam syariah, berdasarkan nash hadits yang melaknat pemakan riba, pemberinya, penulis dan kedua saksinya.Hal kedua yang menjadi titik keharaman transaksi ini adalah haramnya seseorang menjual sesuatu yang bukan miliknya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAWRasulullah SAW melarang jual beli sesuatu yang tidak dimiliki dan melarang keuntungan dari sesuatu yang tidak bisa dijamin kepastiannya.Bentuk kongkritnya seperti menjual saham yang tidak dimiliki oleh penjual pada waktu akad, sementara dia hanya menerima janji dari pialang dengan menghutangkan saham pada waktu jatuh tempo penyerahan. Karena hal itu merupakan salah satu bentuk jual-beli sesuatu yang tidak dimiliki oleh penjual.Larangan tersebut bertambah kuat jika disyaratkan penyerahan harga kepada pialang untuk ia manfaatkan dengan menabungkannya dengan bunga untuk meraih kompensasi atas pemberian pinjamannya.Boleh jadi seorang penjual melakukan proses itu karena dia memperkirakan harga akan jatuh. Jika dia menjual surat berharga hari ini dengan Rp 200.000,- misalnya, dia memperkirakan bahwa harga akan turun setelah 15 hari, yaitu hari jatuh tempo akad menjadi Rp 150.000,-. Sehingga dia membeli surat berharga tersebut pada hari itu seharga Rp 150.000 dan menyerahkannya kepada pembeli dalam akad short sale yang telah dibeli darinya seharga Rp 200.000,-., sehingga ia memperoleh keuntungan dari selisih kedua harga tersebut sebesar Rp 50.000,-.Sedangkan pembeli melakukan proses transaksi ini karena dia bertaruh bahwa harga akan naik. Dia memperkirakan bahwa harga surat tersebut akan mencapai Rp 250.000,-. pada hari jatuh tempo. Padahal dia membeli hanya dengan harga Rp 200.000,- saja. Sehingga dia akan mendapatkan keuntungan (capital gain) dari perbedaan kedua harta tersebut seharga Rp 50.000,-.Efek buruknya permainan ini adalah bahwa setiap pihak yang mengharapkan turun dan naiknya harga berusaha dengan segala cara, terutama yang tidak syar'i agar perkiraannya benar sehingga ia memperoleh keuntungan. Di antara cara-cara yang ditempuhnya antara lain: penyebaran isu-isu, melakukan transaksi fiktif atau formalitas belaka, menyebarkan perasaan was-was dalam pasar modal dan lainnya. Dari sinilah muncul bencana dan krisis.Dan jelas sekali keharaman bentuk short sale ini adalah pada masalah bahwa penjualan tidak memiliki barang (surat berharga) yang menjadi objek akad jual beli tersebut. pada waktu akad. Dia hanya berspekulasi pada turunnya harga, di mana dia memperkirakan turunnya harga saham yang dia jual kemudian dia membeli pada waktu jatuh tempo dengan harga yang lebih murah sebagaimana ia perkirakan, sedangkan ia telah menjual saham tersebut dengan harga yang lebih tinggi sehingga ia memperoleh keuntungan perbedaan harga.Dalam waktu sama, pembeli surat berharga tersebut berspekulasi bahwa harta akan naik, padahal ia telah membeli dengan harga yang lebih murah. Sehingga ia akan memperoleh keunutngan perbedaan dua harga tersebut.Wallahu a'lam bishshawab wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,Ahmad Sarwat, Lc.sumber rumahfiqih.com

Artikel PALING YESS Lainnya :

Scroll to top